Udara kota Malang sedang tak
bersahabat. Dari sore hingga malam langit belumlah lelah turunkan hujan. Saat itu
suhu kira-kira 17 derajat. Cukup dingin walau badan sudah beselimutkan jaket.
Sekarang jam 22.03, masjid telah
sepi. Tiada lagi orang yang belajar atau sekedar mengobrol disana. Jam tidur
telah berlaku, para santri wajib untuk masuk dan tidur di kamar. Namun, Eko tak
juga berpindah, walau mudabbir sudah menyuruh untuk segera beralih ke kamar,
Eko masih tetep fokus dengan apa yang ada didepannya. Satu kitab shorof juga Tasyrifan.
Ia bertekad untuk menghafalnya malam ini. Tak peduli jam berapa nanti ia akan
rebahkan diri. Ia ingin bisa!
Satu dua kali ia ambil kertas di bindernya, mencoba mengecek hafalannya dengan menuliskannya. Dalam hitungan menit saja,
kertas itu sudah penuh dengan huruf-huruf Arab. Tak beraturan, atas kesamping, bawah keatas. Tak apa! Yang penting hafal. Begitu pikirnya.
Satu dua kali ia ambil kertas di bindernya, mencoba mengecek hafalannya dengan menuliskannya. Dalam hitungan menit saja,
kertas itu sudah penuh dengan huruf-huruf Arab. Tak beraturan, atas kesamping, bawah keatas. Tak apa! Yang penting hafal. Begitu pikirnya.
Sunyinya malam, buat ia mampu
berkonsentrasi. Kantuk telah terpendam. Yang ada hanyalah semangat yang
berkobar.
Ia tak mau menyerah, menjadi yang
terbaik adalah citanya. Ia tak mau kecewakan ibu, ayah, juga seluruh
keluarganya di rumah maupun dulu di SMPIT nya. Dari sejuta motivasi yang ia
terima, ia sadar gara-gara teman SMPIT-nyalah ia sekarang bisa ada disini, di
Pondok Pesantren Nurul Hikmah Malang. Teman-temannya lah yang telah membuat
cara pandang Eko atas hidupnya, Eko sudah tak lagi seperti dulu.
Sifat malas tlah ia tinggalkan,
banyak main tlah ia kurangi. Ia jadi lebih dewasa sekarang. Muali fokus mencari
jati diri dan meraih apa yang ia impikan. Temannya benar-benar mengajari
bagaimana makna sebuah kehidupan. Bukan hanya tuk dijalani namun juga untukk
diperjuangkan. Tidak hanya mengikuti arus global namun harus membentuk prinsip
hidup sendiri. Yang positif dan bermanfaat tuk diri sendiri juga orang lain.
“ok, Alhamdulillah selesai”
gumamnya.
Eko tlah menepati targetnya. Yang
ada di mejanya hanyalah kitab Tasyrifan masih terbuka dengan setumpuk kertas
penuh coretan. Ia harus membereskannya. Dengan perlahan, Eko memasukkan semua
itu kedalam tas. Sekarang waktunya tidur. Ia berencana untuk tidur di masjid.
Setelah semua rapi, ia mencari
tempat yang pas dan menggelar sajadahnya . merebahkan tubuhnya menerawang
langit-langit masjid yang berwarna biru. Lampu didalam sudah mati yang bersisa
hanyalah penerangan dari teras masjid. Itu cukup untuk berikan suasana yang pancing ia untuk
membayangkan sesuatu.
Biarkan semua berlalu apa
adanya, biarkan kupu terbang mencari bunga, ia belumlah bisa lepas bebas. Karena
masih banyak tanggung jawab tuk serbuki bunga-bunga. Biarkan sayap-sayap
kupu-kupu tetap indah tiada yang menodai. Waktu belumlah tepat tuk hadirkan dua
kupu-kupu. Suatu saat nanti..dimana segala sesuatu akan menjadi indah.
Kata-kata itu tiba-tiba melintas
dipikiran Eko. Tak tahu darimana, tiba-tiba ia teringat seseorang. Wajah Eko
sedikit tegang, perasaan dihatinya berkecambuk. Ia tak lagi menerawang
langi-langit masjid namun telah memejamkan mata. Nerharap semua terlihat jelas
dalam dunianya.
Kembali! Kembali! Enam bulan
yang lalu! Dimana kau kataka sesuatu yang tulus, sangat tulus tuk sebuah
kepastian dalam janji ikatan yang nyata. Agar Nida menunggumu, agar Nida tahu
perasaan sesungguhnya dari Eko.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar