Sepotong Coklat Kehidupan: Enam Bulan Lalu

Jumat, 27 Desember 2013

Enam Bulan Lalu



Udara kota Malang sedang tak bersahabat. Dari sore hingga malam langit belumlah lelah turunkan hujan. Saat itu suhu kira-kira 17 derajat. Cukup dingin walau badan sudah beselimutkan jaket.

Sekarang jam 22.03, masjid telah sepi. Tiada lagi orang yang belajar atau sekedar mengobrol disana. Jam tidur telah berlaku, para santri wajib untuk masuk dan tidur di kamar. Namun, Eko tak juga berpindah, walau mudabbir sudah menyuruh untuk segera beralih ke kamar, Eko masih tetep fokus dengan apa yang ada didepannya. Satu kitab shorof juga Tasyrifan. Ia bertekad untuk menghafalnya malam ini. Tak peduli jam berapa nanti ia akan rebahkan diri. Ia ingin bisa!

Satu dua kali ia ambil kertas di bindernya, mencoba mengecek hafalannya dengan menuliskannya. Dalam hitungan menit saja,
kertas itu sudah penuh dengan huruf-huruf Arab. Tak beraturan, atas kesamping, bawah keatas. Tak apa! Yang penting hafal. Begitu pikirnya.

Sunyinya malam, buat ia mampu berkonsentrasi. Kantuk telah terpendam. Yang ada hanyalah semangat yang berkobar.

Ia tak mau menyerah, menjadi yang terbaik adalah citanya. Ia tak mau kecewakan ibu, ayah, juga seluruh keluarganya di rumah maupun dulu di SMPIT nya. Dari sejuta motivasi yang ia terima, ia sadar gara-gara teman SMPIT-nyalah ia sekarang bisa ada disini, di Pondok Pesantren Nurul Hikmah Malang. Teman-temannya lah yang telah membuat cara pandang Eko atas hidupnya, Eko sudah tak lagi seperti dulu.

Sifat malas tlah ia tinggalkan, banyak main tlah ia kurangi. Ia jadi lebih dewasa sekarang. Muali fokus mencari jati diri dan meraih apa yang ia impikan. Temannya benar-benar mengajari bagaimana makna sebuah kehidupan. Bukan hanya tuk dijalani namun juga untukk diperjuangkan. Tidak hanya mengikuti arus global namun harus membentuk prinsip hidup sendiri. Yang positif dan bermanfaat tuk diri sendiri juga orang lain.

“ok, Alhamdulillah selesai” gumamnya.

Eko tlah menepati targetnya. Yang ada di mejanya hanyalah kitab Tasyrifan masih terbuka dengan setumpuk kertas penuh coretan. Ia harus membereskannya. Dengan perlahan, Eko memasukkan semua itu kedalam tas. Sekarang waktunya tidur. Ia berencana untuk tidur di masjid.

Setelah semua rapi, ia mencari tempat yang pas dan menggelar sajadahnya . merebahkan tubuhnya menerawang langit-langit masjid yang berwarna biru. Lampu didalam sudah mati yang bersisa hanyalah penerangan dari teras masjid. Itu cukup untuk  berikan suasana yang pancing ia untuk membayangkan sesuatu.

Biarkan semua berlalu apa adanya, biarkan kupu terbang mencari bunga, ia belumlah bisa lepas bebas. Karena masih banyak tanggung jawab tuk serbuki bunga-bunga. Biarkan sayap-sayap kupu-kupu tetap indah tiada yang menodai. Waktu belumlah tepat tuk hadirkan dua kupu-kupu. Suatu saat nanti..dimana segala sesuatu akan menjadi indah.

Kata-kata itu tiba-tiba melintas dipikiran Eko. Tak tahu darimana, tiba-tiba ia teringat seseorang. Wajah Eko sedikit tegang, perasaan dihatinya berkecambuk. Ia tak lagi menerawang langi-langit masjid namun telah memejamkan mata. Nerharap semua terlihat jelas dalam dunianya.

Kembali! Kembali! Enam bulan yang lalu! Dimana kau kataka sesuatu yang tulus, sangat tulus tuk sebuah kepastian dalam janji ikatan yang nyata. Agar Nida menunggumu, agar Nida tahu perasaan sesungguhnya dari Eko.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar