Sepotong Coklat Kehidupan: Hancur

Sabtu, 28 Desember 2013

Hancur



                Akhirnya Eko sudah temukan arti keindahan. Nampaknya pikiran yang tiba-tiba melintas saat ia sedang mengajar TPA buatnya menjad i lega. Dulu ia sering bertanya pada diri sendiri ataupun orang lain tentang arti keindahan, tapi tak satupun jawaban memuaskan ia dapat.
               
                Selama ini yang ia tahu keindahan hanya dapat dilihat saja. Tak tahu kenapa tapi itulah adanya. Keindahan alam, bentangan pegunungan, lengkukan lembah, liku kellok sungai, hamparan samudra, birunya langit, romantika sunset, tumbuhnya ladang yang menghijau, hadirnya sunrise, titik-tik hujan yang membekas cerita sore
dan masih banyak lagi.

                Eko sudah terlampau sering memandang sesuatu, dan ia berpendapat bahwa itu indah. Ia memang amat mengagumi alam. Ciptaan Allah ini amat berkesan dihatinya, banyak hal yang masih belum bisa tuk ia jelaskan dengan kata-kata. Hanya hatilah yang mampu terjemahkan itu semua.

                Sama. Dihatinya kini ada seseorang yang begitu indah baginya. Terlalu indah tuk dibayangkan, terlalu manis tuk dikenang. Namun ia sadar, ia mungkin tak akan bisa berjumpa lagi. Tak akan mampu tuk bercengkrama atau mungkin hanya sekedar utnuk bertatap muka. Semua kenangan indah itu terpaksa hanya bisa dikenang saja. Bagaimanapun ia berusaha, tembok kemustahilan akan selalu menghadang. Si pembawa kenangan itu sudah tak ada di dunia yang sama dengan Eko. Si pembawa kenangan telah pergi mendahului impian mereka.

                Impian itu telah dibangun keduanya sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Menerawang ke masa depan, melukiskan andai-andai. Menuliskan cerita indah, cerita mereka berdua yang berakhir bahagia. Tujuan hidup dewasa mereka. Mengikat dua hati dalam ikatan suci, hari yang dinantikan semua orang untuk menjemput kebahagiaan bersama takdir yang telah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa.

                Pasangan sejati tuk tempuh kehidupan baru. Mendirikan sebuah ibadah yang merupakan setengah agama. Membangun sebuah keluarga, mendidik anak belajar agama, menciptakan behtera menuju surga.

                Tapi, sebelum semua itu terjadi, takdir telah berkata lain. Yang DiAtas telah merenggutnya. Sebelum Eko sempat mengutarakan maksud tuk meminang. Mengungkapkan rasa yang terpendam selama lebih dari 8 tahun.

                Semua sudah sirna. Yang tertinggal hanyalah kesedihan. Eko larut dalam sebuah lembah penuh kekacauan. Selama  8 tahun Eko menggantungkan hidupnya, menjadikan hari itu sebagai tujuannya tuk selalu bersemangat meraih cita. Eko sudah tak bisa lagi bedakan mana cinta mana derita. Dua perasaan itu seolah melebur dan saling menguatkan satu sama lain. Cinta yang terlalu besar akan menyisakan derita. Seperti ombak yang menghatam rumah pasir. Tidak ada waktu tuk mempertahankannya agar berdiri sekalipun sekejap saja.

                Dan derita itu bagai jawaban atas cintanya, semakin ia disudutkan oleh derita. Ia sadar bahwa si pemberi derita itu adalah orang yang akan jadi cinta sejatinya. Eko tak bisa menyalahkan keadaan, semua itu jelas ada diluar kendalinya.

                Otak dan hatinya berpikir keras. Akankah ini benar-benar jadi cobaan terberat kedua dalam hidupnya? Eko mau segalanya jelas, sebuah jawaban langsung dari Nida. Apakah Nida masih punya rasa yang sama dengannya? Atau kepergian Nida ini sama dengan perginya Eko dari hati Nida?

                “Diary...apa semua akan kembali?”, Nida menutup bukunya tak ingin seorangpun tahu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar