Akhirnya
Eko sudah temukan arti keindahan. Nampaknya pikiran yang tiba-tiba melintas
saat ia sedang mengajar TPA buatnya menjad i lega. Dulu ia sering bertanya pada
diri sendiri ataupun orang lain tentang arti keindahan, tapi tak satupun
jawaban memuaskan ia dapat.
Selama ini
yang ia tahu keindahan hanya dapat dilihat saja. Tak tahu kenapa tapi itulah
adanya. Keindahan alam, bentangan pegunungan, lengkukan lembah, liku kellok
sungai, hamparan samudra, birunya langit, romantika sunset, tumbuhnya ladang
yang menghijau, hadirnya sunrise, titik-tik hujan yang membekas cerita sore
dan
masih banyak lagi.
Eko sudah
terlampau sering memandang sesuatu, dan ia berpendapat bahwa itu indah. Ia memang
amat mengagumi alam. Ciptaan Allah ini amat berkesan dihatinya, banyak hal yang
masih belum bisa tuk ia jelaskan dengan kata-kata. Hanya hatilah yang mampu
terjemahkan itu semua.
Sama. Dihatinya
kini ada seseorang yang begitu indah baginya. Terlalu indah tuk dibayangkan,
terlalu manis tuk dikenang. Namun ia sadar, ia mungkin tak akan bisa berjumpa
lagi. Tak akan mampu tuk bercengkrama atau mungkin hanya sekedar utnuk bertatap
muka. Semua kenangan indah itu terpaksa hanya bisa dikenang saja. Bagaimanapun ia
berusaha, tembok kemustahilan akan selalu menghadang. Si pembawa kenangan itu
sudah tak ada di dunia yang sama dengan Eko. Si pembawa kenangan telah pergi
mendahului impian mereka.
Impian itu
telah dibangun keduanya sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Menerawang ke
masa depan, melukiskan andai-andai. Menuliskan cerita indah, cerita mereka
berdua yang berakhir bahagia. Tujuan hidup dewasa mereka. Mengikat dua hati
dalam ikatan suci, hari yang dinantikan semua orang untuk menjemput kebahagiaan
bersama takdir yang telah ditentukan oleh Sang Maha Kuasa.
Pasangan
sejati tuk tempuh kehidupan baru. Mendirikan sebuah ibadah yang merupakan
setengah agama. Membangun sebuah keluarga, mendidik anak belajar agama,
menciptakan behtera menuju surga.
Tapi,
sebelum semua itu terjadi, takdir telah berkata lain. Yang DiAtas telah
merenggutnya. Sebelum Eko sempat mengutarakan maksud tuk meminang. Mengungkapkan
rasa yang terpendam selama lebih dari 8 tahun.
Semua
sudah sirna. Yang tertinggal hanyalah kesedihan. Eko larut dalam sebuah lembah
penuh kekacauan. Selama 8 tahun Eko
menggantungkan hidupnya, menjadikan hari itu sebagai tujuannya tuk selalu bersemangat
meraih cita. Eko sudah tak bisa lagi bedakan mana cinta mana derita. Dua perasaan
itu seolah melebur dan saling menguatkan satu sama lain. Cinta yang terlalu
besar akan menyisakan derita. Seperti ombak yang menghatam rumah pasir. Tidak ada
waktu tuk mempertahankannya agar berdiri sekalipun sekejap saja.
Dan derita
itu bagai jawaban atas cintanya, semakin ia disudutkan oleh derita. Ia sadar
bahwa si pemberi derita itu adalah orang yang akan jadi cinta sejatinya. Eko
tak bisa menyalahkan keadaan, semua itu jelas ada diluar kendalinya.
Otak dan
hatinya berpikir keras. Akankah ini benar-benar jadi cobaan terberat kedua
dalam hidupnya? Eko mau segalanya jelas, sebuah jawaban langsung dari Nida. Apakah
Nida masih punya rasa yang sama dengannya? Atau kepergian Nida ini sama dengan
perginya Eko dari hati Nida?
“Diary...apa
semua akan kembali?”, Nida menutup bukunya tak ingin seorangpun tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar