Sepotong Coklat Kehidupan: Kupu - Kupu (intro~)

Senin, 12 Agustus 2013

Kupu - Kupu (intro~)


                Hari ini siang pukul 13.00. Bel masuk tlah berbunyi hampir setengah jam yang lalu. Namun guru mapel belum datang juga. Udara hampir-hampir tak terasa panas walau sinar matahari bersinar dengan menyinari hutan bambu rindang di samping sekolah. Bambu itu terus saja bergesekan menimbulkan suara yang menambahi riuhnya suasana dalam kelas.

                Mereka ada yang bercanda, memaikan jendela, melempar buku-buku maupun mencoret-coret papan tulis. Papan yang semula bersih itu kini berisi gambar-gambar aneh yang tak dimengerti Nida. Ia memandangi sekeliling kelasnya, ia agak tertegun. Ada beberapa murid laki-laki yang asyik berlarian, ada juga ngrumpi dibelakang kelas. Entah apa
yang mereka bahas.

“dasar kekanak-kanakan, keperempuan-perempuanan juga” gerutu Nida dalam hati.

                Nida bergeming dimejanya. Tak ada apa-apa disana kecuali buku kecil dan bolpoinnya. Dari tadi ia hanya bermalas-malasan dan kadang mencoret-coret bukunya itu dengan tulisan apapun yang muncul dipikirannya. Biasanya dijam kosong seperti ini Nida melakukan hal-hal yang bermanfaat, tapi siang ini berbeda. Ia sedang ingin melamun.

                Menerbangkan khayalannya ke tempat yang tak bisa dijangkau siapapun. Pikirannya sedang menangkap kembali bagaimana dia dahulu, semua kenangan manis dengan seseorang. Indah hidup serasa berdua. Ia sedang rindu. Dan buku itu jadi tempat pelampiasan akan perasaan yang tak tersampaikan. Ia menulis : Cinta ? sedang apakah engkau ? Pandangannya terangkat, ia sedang menusuri pojok dinding dan berharap langsung menemukannya.

“hayo! Ngapain Da ngliatin lukisan itu terus??”, seseorang  tanpa dosa menepuk punggung Nida dari belakang, namun Nida tak mengguris.

                Nida tak berhenti memandangi lukisan itu. Tak menginginkan seseoarang mengganggu lamunannya. Ia benar-benar memasuki dunia baru, lukisan itu buat Nida sekali lagi merasakan perasaan yang sama dengan 3 bulan lalu. Sebelum perpisahan dengan murid-murid kelas 9. Lukisan tadi adalah milik kakak kelas Nida, dan ruangan yang dipakai Nida adalah ruang kelas 9 tahun lalu dan sekarang. Jadi apapun yang ada disana awalnya adalah peninggalan kakak-kakak kelas Nida. Termasuk lukisan-lukisan itu.

                Kupu? Apakah bisa bercahaya? Ya bisa, ketika dia berada didalam kegelapan? Benarkah? Asal kau mempercayainya.

                Aslinya lukisan yang dipandang Nida itu tak jauh lebih indah dari lukisan disamping-sampingnya. Itu hanya karya biasa. Hanya saja bagi Nida, jelas it berbeda.  Lukisan itu berarti.

“eh??”, sadar ada seseorang dibelakangnya, Nida segera membalik arah.

“ihh.... Nidaku sayang, ngapain ngeliatin lukisan itu terus? Ciyeee, lagi kangen ya sama mas Eko??”, goda Zahra.

Iya, itu kan lukisan mas Eko,tapi kenapa aku memandanginya?
“eh? Eh? Enggak kok! Lagi pengen aja, habis bosen liat muka kamu terus!”, jawab Nida sambil tersenyum.

                Lukisan itu adalah lukisan sebuah kupu-kupu. Sayapnya berwarna biru, warna kesukaan Nida. Dengan sedikit bercampur goresan motif kuning, seolah biru tadi menjadi warna yang melengkapi dan kuningnya berkilau indah. Latar belakangnya adalah padang rumput hijua. Kupu tadi sedang hinggap disalah satu helainya. Dan yang lebih cantik adalah seolahkupu-kupu itu bersinar didalam kegelapan. Entah kenapa warna yang dipilih Eko memang seperti itu. Selain rumput dan kupu semua adalah warna dark alias gelap.

                Jika siapapun diberi kesempatan untuk memberi judul pada lukisan ini mereka akan kompak menjawab : Kupu-Kupu yang bersinar dalam Kegelapan. Nida tahu apa maknanya. Karena orang yang melukis itu memberitahunya. Bahkan sebelum lukisan itu dibuat.

                Pikiran Nida lagi-lagi kembali kemasa lalu. Mendatangkan emosinya waktu itu. Cinta yang baginya adalah seorang pembawa cahaya dalam hidupnya.

                Kau itu seperti kupu-kupu, yang indah juga berikan kehidupan bagi bunga-bunga yang sedang tumbuh. Tanpamu bunga-bunga tak akan bisa mekar dengan sempurna. Ya kau itu seperti kupu-kupu, hadirmu memberi manfaat bagi orang lain. Memberi cahaya bagi mereka yang buta. Menuntun kemana mereka harus melangkah. Tanpamu mereka mungkin tak tahu bagaimana agar bisa menjadi insan mulia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar