Hari
ini siang pukul 13.00. Bel masuk tlah berbunyi hampir setengah jam yang lalu.
Namun guru mapel belum datang juga. Udara hampir-hampir tak terasa panas walau
sinar matahari bersinar dengan menyinari hutan bambu rindang di samping
sekolah. Bambu itu terus saja bergesekan menimbulkan suara yang menambahi
riuhnya suasana dalam kelas.
Mereka
ada yang bercanda, memaikan jendela, melempar buku-buku maupun mencoret-coret
papan tulis. Papan yang semula bersih itu kini berisi gambar-gambar aneh yang
tak dimengerti Nida. Ia memandangi sekeliling kelasnya, ia agak tertegun. Ada
beberapa murid laki-laki yang asyik berlarian, ada juga ngrumpi dibelakang
kelas. Entah apa
yang mereka bahas.
yang mereka bahas.
“dasar kekanak-kanakan,
keperempuan-perempuanan juga” gerutu Nida dalam hati.
Nida
bergeming dimejanya. Tak ada apa-apa disana kecuali buku kecil dan bolpoinnya. Dari
tadi ia hanya bermalas-malasan dan kadang mencoret-coret bukunya itu dengan
tulisan apapun yang muncul dipikirannya. Biasanya dijam kosong seperti ini Nida
melakukan hal-hal yang bermanfaat, tapi siang ini berbeda. Ia sedang ingin
melamun.
Menerbangkan
khayalannya ke tempat yang tak bisa dijangkau siapapun. Pikirannya sedang
menangkap kembali bagaimana dia dahulu, semua kenangan manis dengan seseorang. Indah
hidup serasa berdua. Ia sedang rindu. Dan buku itu jadi tempat pelampiasan akan
perasaan yang tak tersampaikan. Ia menulis : Cinta ? sedang apakah engkau ? Pandangannya terangkat, ia
sedang menusuri pojok dinding dan berharap langsung menemukannya.
“hayo! Ngapain Da
ngliatin lukisan itu terus??”, seseorang tanpa dosa menepuk punggung Nida dari
belakang, namun Nida tak mengguris.
Nida
tak berhenti memandangi lukisan itu. Tak menginginkan seseoarang mengganggu
lamunannya. Ia benar-benar memasuki dunia baru, lukisan itu buat Nida sekali
lagi merasakan perasaan yang sama dengan 3 bulan lalu. Sebelum perpisahan
dengan murid-murid kelas 9. Lukisan tadi adalah milik kakak kelas Nida, dan
ruangan yang dipakai Nida adalah ruang kelas 9 tahun lalu dan sekarang. Jadi apapun
yang ada disana awalnya adalah peninggalan kakak-kakak kelas Nida. Termasuk lukisan-lukisan
itu.
Kupu?
Apakah bisa bercahaya? Ya bisa, ketika dia berada didalam kegelapan? Benarkah?
Asal kau mempercayainya.
Aslinya
lukisan yang dipandang Nida itu tak jauh lebih indah dari lukisan disamping-sampingnya.
Itu hanya karya biasa. Hanya saja bagi Nida, jelas it berbeda. Lukisan itu berarti.
“eh??”, sadar
ada seseorang dibelakangnya, Nida segera membalik arah.
“ihh.... Nidaku
sayang, ngapain ngeliatin lukisan itu terus? Ciyeee, lagi kangen ya sama mas
Eko??”, goda Zahra.
Iya, itu kan
lukisan mas Eko,tapi kenapa aku memandanginya?
“eh? Eh? Enggak kok! Lagi pengen
aja, habis bosen liat muka kamu terus!”, jawab Nida sambil tersenyum.
Lukisan
itu adalah lukisan sebuah kupu-kupu. Sayapnya berwarna biru, warna kesukaan
Nida. Dengan sedikit bercampur goresan motif kuning, seolah biru tadi menjadi
warna yang melengkapi dan kuningnya berkilau indah. Latar belakangnya adalah
padang rumput hijua. Kupu tadi sedang hinggap disalah satu helainya. Dan yang
lebih cantik adalah seolahkupu-kupu itu bersinar didalam kegelapan. Entah kenapa
warna yang dipilih Eko memang seperti itu. Selain rumput dan kupu semua adalah
warna dark alias gelap.
Jika
siapapun diberi kesempatan untuk memberi judul pada lukisan ini mereka akan
kompak menjawab : Kupu-Kupu yang bersinar dalam Kegelapan. Nida tahu apa
maknanya. Karena orang yang melukis itu memberitahunya. Bahkan sebelum lukisan
itu dibuat.
Pikiran
Nida lagi-lagi kembali kemasa lalu. Mendatangkan emosinya waktu itu. Cinta yang
baginya adalah seorang pembawa cahaya dalam hidupnya.
Kau
itu seperti kupu-kupu, yang indah juga berikan kehidupan bagi bunga-bunga yang
sedang tumbuh. Tanpamu bunga-bunga tak akan bisa mekar dengan sempurna. Ya kau
itu seperti kupu-kupu, hadirmu memberi manfaat bagi orang lain. Memberi cahaya
bagi mereka yang buta. Menuntun kemana mereka harus melangkah. Tanpamu mereka
mungkin tak tahu bagaimana agar bisa menjadi insan mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar